Sabtu, 19 Mei 2018

6 Mitos kesehatan seputar telur yang salah kaprah


Telur ayam. Bahan makanan yang satu ini disebut memiliki nutrisi lengkap untuk tubuh, tetapi tak jarang pula dituding membahayakan kesehatan. Terutama bagi mereka yang bermasalah dengan kolesterol dan berat badan.

Tak mengherankan jika berbagai mitos mengenai nilai kesehatan telur ayam beredar di masyarakat. Padahal tak semuanya didukung dengan data-data akurat. Masalahnya mitos-mitos ini sudah terlanjur dipercaya masyarakat, sehingga tak sedikit yang memberikan label 'tak sehat' atau 'berbahaya' bagi si telur ayam.

Agar tak salah kaprah, mari kita kupas satu per satu mitos seputar telur ayam yang ternyata tidak benar tersebut.

1. Mitos: Konsumsi telur setiap hari bisa menyebabkan penyakit kolesterol


Fakta: Kuning telur berukuran sedang memang mengandung 185-215 mg kolesterol. Jika level kolesterol jahat (LDL) Anda lebih dari 100 mg atau Anda didiagnosis dengan penyakit jantung, konsumsi makanan berkolesterol yang dianjurkan tidak lebih dari 200 mg. Dua butir telur yang direbus atau dikukus tidak akan berbahaya untuk Anda.

Selain itu, kolesterol di dalam telur juga diimbangi dengan kandungan fosfatida. Fosfatida bertugas menghambat produksi kolesterol di dalam tubuh.

Asam lemak Omega 3 yang ada di dalam telur juga akan membantu mengurangi kadar trigliserida, sehingga menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

2. Mitos: Telur bikin gemuk


Fakta: Kombinasi diet rendah kalori dengan sarapan telur akan membantu Anda menurunkan berat badan dengan cepat.

Sarapan telur bisa mencegah seseorang makan berlebihan. Telur merupakan opsi makan pagi yang lebih baik daripada karbohidrat, karena mampu menstabilkan level gula darah sampai makan siang. Juga dapat membuat kita merasa kenyang lebih lama.

Proses pengolahan dengan minyak goreng dan pemanasan terlalu lamalah yang menjadikan telur kurang sehat untuk tubuh.

3. Mitos: Telur yang berwarna putih lebih bagus daripada yang coklat


Fakta: Sebenarnya warna kulit telur sama sekali tak berhubungan dengan nutrisi yang di kandungnya. Kualitas telur lebih dipengaruhi kesehatan si ayam dan makanan yang dikonsumsinya.

Bagian kuning telur menunjukkan kesehatan ayam yang memproduksinya lebih baik daripada warna kulit telur. Warna oranye menandakan ayam mendapat asupan nutrisi dan sinar matahari yang cukup.

4. Mitos: Kuning telur berbahaya bagi kesehatan


Fakta: Sekali lagi, kuning telur memang mengandung kolesterol cukup tinggi. Tetapi jumlah tersebut juga diimbangi fosfatida yang bertugas menghambat kolesterol.

Selain itu, konsumsi telur utuh akan memberikan manfaat bagi kesehatan otak, tulang, kulit, rambut, mata, jantung, dan kesuburan. Semua itu karena kandungan kolin, vitamin B9 (asam folat), vitamin D, asam lemak Omega 3, lutein, dan fosfolipid.

5. Mitos: Telur setengah matang bisa bikin keracunan


Fakta: Menurut The Food Safety and Hygiene (England) Regulations, risiko keracunan akibat telur rebus setengah matang sangat rendah. Selama telur disimpan pada suhu kurang dari 20 derajat Celcius dalam waktu kurang dari 2 minggu, ia tetap aman dikonsumsi.

Selain itu, pastikan tidak terjadi kontaminasi silang dari bahan lain dan tidak menyimpan telur rebus lebih dari 2 hari. Inilah yang menjadi biang masalah.

6. Mitos: Telur bikin kulit bermasalah


Fakta: Jika Anda memiliki alergi terhadap bahan makanan dari unggas, telur bisa mendatangkan masalah berupa jerawat atau bisul. Bagi Anda yang tidak memiliki masalah dengannya, telur justru bisa menjadikan kulit cantik.

Kandungan biotin, vitamin B12, dan protein bergizi yang dapat dicerna dalam telur akan berkontribusi pada penguatan rambut dan kulit. Fosfolipid yang terkandung dalam telur akan meningkatkan eliminasi racun di hati.

Demikian mitos salah kaprah tentang telur ayam yang sebaiknya tidak Anda percayai lagi. Kunci agar Anda mendapatkan hanya manfaat dari telur ayam cuma satu, konsumsi dalam jumlah sewajarnya saja. Dengan begitu Anda akan terhindar dari risiko-risiko kesehatan yang mungkin menyertainya.

0 komentar:

Posting Komentar